GOOGLING..!

Senin, 30 April 2012

Kebon Jabon Kebun Jabun

Kebon jabon, dalam bahasa Jawa, kebun jabon dalam bahasa Indonesia. Kurang lebih maksud judul di atas seperti itu. Dalam banyak kesempatan lain, banyak pula dituliskan dan disebut dengan istilah lahan jabon. Lahan jabon, dalam beberapa kasus, bisa menjadi salah satu solusi pemanfaatan lahan tidur, yakni lahan yang sebelumnya tidak menarik dari sisi ekonomis.

Pada ketinggian tertentu, penanaman jabon pada lahan yang terbentang luas juga merupakan salah satu upaya peremajaan hutan lindung. Tanaman-tanaman yang bisa tumbuh seiring, pada contoh kasus tertentu, bisa dimanfaatkan dalam proses belajar atau penelitian.

Jabon atau dalam bahasa latinnya disebut Anthocepalus Cadamba merupakan tanaman kayu yang tumbuh cepat. Tanaman Jabon merupakan tanaman yang dapat menjadi konservasi bagi tanah dan hutan karena sifatnya yang memiliki akar serabut dan banyak sekali menyerap air.

Jabon dapat tumbuh tinggi hingga 45 m dengan panjang bebas cabang 30 m dan diameter dapat mencapai 160 cm. Batang secara alami cenderung lurus, silindris, tinggi bebas cabang tinggi (cabang gugur secara alami). Jabon dapat tumbuh di hampir berbagai kondisi tanah mulai dari tanah kering sampai tanah-tanah yang kadang-kadang tergenang. Jabon tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dari permukaan laut.

Jabon bisa menjadi alternatif bagi petani untuk mengganti tanaman sengon. Jabon mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki tanaman sengon. Diantaranya adalah ketahanan terhadap hama, Tidak harus terkena cahaya matahari yang lama, bahkan di tanah kapur atau pasir pun tanaman ini tumbuh baik.

Dari pengamatan di sekitar pantai tanaman ini tumbuh bagus dan pohon tidak miring, karena mempunyai struktur akar yang kuat dan tidak bercabang.

Jabon merupakan salah satu jenis pohon gugur daun (deciduos). Umumnya pohon jabon bisa mencapai ketinggian 45 m dengan panjang bebas cabang 30 m diameter mencapai 160 cm. Batangnya lurus dan silindris, bertajuk tinggi dengan cabang mendatar dan berbanir (akar yang tumbuh di atas permukaan tanah) sampai ketingian 1.5 m. Keunikan dari jabon adalah kemampuannya dalam melakukan pemangkasan secara alami. Hal ini karena cabang-cabang yang berada di bagian bawah dan tidak cukup mendapatkan cahaya akan gugur secara alami.

Kulit luar batang pada waktu muda berwarna putih kehijauan tanpa alur, tetapi seiring pertambahan umur pohon, tekstur kulit batangnya menjadi pecah-pecah dan mengelupas. Batang akan berubah warna menjadi kelabu-cokelat sampai cokelat, sedikit beralur dangkal dan kulit batang tidak mengelupas.

Tajuk pohon berbentuk payung dan berukuran kecil. Cabang dan rantingnya menyebar secara horizontal. Daun jabon berbentuk agak oval dan elips dengan arah daun saling berhadapan.

Dalam hal tempat untuk tumbuh, jabon memiliki tolerensi yang sangat luas, yaitu pada ketinggian dengan kisaran 0 – 1.000 m dpl, tetapi ketinggian optima yang menunjang produktivitasnya adalah kurang dari 500m dpl. Kondisi lingkungan tumbuh yang dibutuhkan oleh jabon adalah tanah lempung, podsolik cokelat dan alluvial lembab yang biasanya terpenuhi di daerah pinggr sungai, daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering yang kadang-kadang tergenangi air. Umumnya jabon ditemukan di hutan sekunder dataran rendah dan dijumpai di dasar lembah, sepanjang sungai dan punggung-punggung bukit.

Jabon ditanam di lahan yang memiliki kedalaman air tanah dangkal atau di tempat yang tergenang air biasanya pertumbuhannya akan terganggu meskipun tidak sampai menyebabkan kematian. Genangan air bisa menyebabkan pertumbuhan jabon menjadi tidak produktif, daun menguning dan rontok serta jarak antar ruas menjadi pendek dan cabang terkumpul di bagian pucuk pohon.

Jabon juga dapat tumbuh di tanah berbatu. Jabon termasuk tanaman yang toleran terhadap tanah masam, tetapi pertumbuhannya menjadi kurang optimal bila ditanam pada lahan yang berdrainasi jelek. Kondisi iklim tempat tumbuh yang sesuai.

Jabon memiliki banyak nama atau sebutan di Indonesia, seperti: jabon, jabun, hanja, kelampean (Jawa); galupai, harapean, johan, kiuna, serebunaik (Kalimantan); bance, pute, loeraa, pontua, sugemania, pekaung, toa (Sulawesi); gumpayan, kelapan, mugawe, sencari (NTB); aparabire, masarambi (Papua)

Dalam klasifikasi tumbuhan, jabon terklasifikasi dalam:
Divisi: Spermatophyta
Sub divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotyledoneae
Suku: Rubiaceae
Marga: Anthocepalus
Jenis: Anthocepalus cadamba; serta dengan nama dalam bahasa Inggris (Nama Inggris): Kadam dan Nama Indonesia: Jabon

Mungkin banyak di antara zMania yang belum mengenal dekat dengan jenis tanaman ini. Berikut ini kami sajikan beberapa gambar yang diambil dari lahan jabon.




Nah, sudah ada gambaran, bukan?

Di Purworejo, lahan jabon telah ada di daerah Bruno dan juga beberapa daerah lain. Tampaknya, tanaman ini akan menjadi salah satu pilihan menggiurkan para investor jangka menengah, sekitar 5 (lima) tahun.

Tertarik? :)

[pmc|mm]

Poskan Komentar