GOOGLING..!

Jumat, 10 Agustus 2012

Railbus Batara Kresna Solo



RAILBUS BATARA KRESNA - Sempat tertunda kelengkapan administrasi satu tahun lebih, Railbus Batara Kresna akhirnya dioperasikan mulai Minggu (5/8). Untuk sementara moda transportasi massal berkapasitas 160 tempat duduk ini melayani jalur Sukoharjo-Jogja. Rute akan diperpanjang hingga Wonogiri, setelah perbaikan jembatan kelar. [KRjogja.com]

Jalur Solo-Jogja, jelas Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignatius Jonan, memang sangat potensial. Dua armada, Prambanan Ekspres (Prameks) dan Madiun Jaya, belum maksimal mengatasi animo masyarakat.


Untuk sementara, Railbus Batara Kresna baru melayani satu kali perjalanan pergi pulang, namun tak menutup kemungkinan ditingkatkan menjadi dua kali perjalanan pergi pulang dalam satu hari. [semboyan35.com]


Seperti halnya KA Madiun Jaya yang ber-AC, tiket Railbus Batara Kresna untuk perjalanan Solo-Jogja dipatok Rp 20 ribu sekali jalan, lalu tarif perjalanan Solo-Sukoharjo ditetapkan Rp 10 ribu. [kaskus.co.id]


UJICOBA RAILBUS - Railbus Batara Kresna melintasi Jalan Slamet Riyadi Solo, saat dilakukan ujicoba pada Rabu (25/4/2012). Ujicoba tersebut dilakukan untuk memeriksa kesiapan rel dan jembatan sepanjang jalur Purwosari-Wonogiri agar dapat dilalui dengan aman. [solopos.com]


KERETA BARU - Railbus Batara Kresna saat peluncuran dari Solo dan melintas di Stasiun Maguwoharjo, Sleman, Minggu (5/8). Menurut Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, keberadaan Railbus Batara Kresna diharapkan dapat mengatasi membeludaknya penumpang kereta api (KA) Prameks. [solopos.com]


Sejarah perkembangan transportasi publik di kota Solo sudah dimulai sejak hampir 100 tahun lalu pada masa kekuasaan Paku Buwono X. Beliau bersama pemerintahan Hindia Belanda membangun jaringan transportasi publik yang tengah populer waktu itu yaitu kereta api dan tram. Kekuasaan  Paku Buwono X tidak hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan saja, beliau juga memikirkan kepentingan rakyatnya yang hidup di wilayah Vorstenlanden. 

Menurut Babad Sala yang ditulis oleh RM. Sajid, jalur trem dimulai dari depan Benteng Vastenburg, lalu ke Kauman dan menuju Derpoyudan hingga Pasar Pon. Keterangan ini juga menyebut jalur di halte Pasar Pon ini memungkinkan trem dari dua arah dapat bertemu. Selanjutnya jalur trem melintasi Sriwedari hingga Purwosari. Jalur trem juga membentang ke barat hingga Gembongan (wilayah Kartasura).

Gambar di atas adalah salah satu bukti keberadaan tram yang masih ditarik oleh dua ekor kuda dan sudah ada kondektur yang menarik ongkos kepada para penumpang yang menaiki tram tersebut. Foto itu diambil oleh fotografer Onnes Kurkdjian, sekitar tahun 1895-1920, di Gladag (Lodjiwoeroeng). Gambar sebelah kirinya bisa diidentifikasi sebagai Gereja Protestan (GBIP Penabur) yang dibangun tahun 1832 dan sebelah kanan gambar masih banyak tanaman besar yang menjadi bagian depan dari Beteng Vastenburg. [TriSuryoKuncoro|skyscrapercity.com]

[z104]

Posting Komentar