GOOGLING..!

Jumat, 04 Mei 2012

Gebleg Mbah Satari Semawung





Gebleg Purworejo, boleh dibilang belum mendapat tempat di restoran cepat saji standar franchais global. Bahkan usaha kulineran ini, walaupun telah banyak dijumpai di kedai gorengan di pinggir jalan tiap sore atau tiap pagi di pasar-pasar tradisional, tidak terlalu mudah untuk mengolahnya bagi banyak perempuan yang sok mengaku penghobi pemasak dan pengolah masakan. Apalagi harus mempertahankan cita rasa yang dikangeni banyak warga masyarakat Purworejo di banyak belahan dunia ini. Warga Purworejo di perantauan acap kali menjadikan gebleg sebagai salah satu cerita tamba kangen (obat rindu), bahkan terkadang minta saudara-saudaranya untuk dikirimi gebleg mentah asli Purworejo.

Banyak di antara kita terkadang bingung kalau ditanya di mana atau gebleg Purworejo karya siapa yang dikenal enak dan membumi. Ada banyak jawaban untuk itu, sayang jawaban-jawaban yang muncul sangat beragam atau subyektif menurut pengalaman penjawab, terutama di mana dia mengalami pertama kalinya. Cita rasa ibu, demikian sementara orang menyebutnya, adalah istilah untuk menunjuk bahwa mencoba atau mencicipi makanan untuk pertama kalinya, terutama kulineran khas daerah tertentu, akan lama menancap dan terus diingat cita rasanya, yang pada akhirnya dipersepsi sebagai yang paling enak. Gebleg Mbah Satari, salah satunya.

Mbah Satari, yang kini usaha geblegnya diteruskan oleh cucu perempuannya, sangat dikenal oleh warga setempat, Semawung Purworejo. Sang cucu mengaku, geblegnya banyak dicari atau dikenal dengan nama Gebleg Mbah Satari.

“Gebleg Semawung,” katanya menegaskan.

Dikenal dengan sebutan Gebleg Semawung karena gebleg ini ‘made in Semawung’, diolah di Semawung Purworejo. Dikenal dengan Gebleg Mbah Satari karena pelanggan telah akrab dan lazim mengenal si pembuat karya. Mbah Satari membuka kedai di pinggir jalan desa, di arah sebelah selatan Pasar Semawung Purworejo. Sedangkan gebleg mentah diolah di rumahnya yang ada di arah sebelah belakang kedai. Bahan gebleg yang berasal dari tepung ketela atau tapioka juga dikenal dan diyakini warga setempat berkualitas bagus. Gebleg matang tampak putih tapi bukan berasal dari bahan pemutih yang pada umumnya bahan kimia. Konon, penyaringan bahan dilakukan dengan cermat dan konsisten dari waktu ke waktu.

Gebleg matang sak under atau satu porsi penggorengan dihargai Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah). Paket ini sangat digemari warga setempat dan warga desa sekitar. Tiap sore, stok selalu habis dari bahan-bahan yang dipersiapkannya. Uniknya, kalau kita akan membeli sebanyak itu, selalu diingatkan apakah nantinya akan habis. Warga sekitar sering membeli dengan pendekatan senilai rupiah tertentu dan ‘dibundling’ dengan gorengan lain.

Pada musim libur lebaran, di saat banyak pemudik saling bersilaturahmi, Gebleg Mbah Satari banyak mendapat tempat di hati pelanggan. Cerita dari mulut ke mulut para pemudik ini benar-benar menjadi bagian penting rahasia pemasaran Gebleg Mbah Satari. Gebleg Mbah Satari kemudian banyak dipesan dalam bentuk mentah atau siap goreng. Satu paket sak tumbu (satu besek) dikenai biaya Rp 20.000,- (dua puluh ribu rupiah) dengan cara memesan. Dengan kapasitas produksi yang tradisional dan terbatas, Gebleg Mbah Satari bisa melayani hingga sebanyak 100-an kg tepung tiap hari.

Jika setiap sore 'dilapakkan' di kedainya sendiri, maka tiap pagi 'dilapakkan' di Pasar Semawung. Dengan cara demikian, dia memberikan minimal dua kali kesempatan tiap hari untuk melayani pemesanan gebleg mentah. Gebleg mentah yang banyak dikonsumsi sampai ke Jakarta bisa tahan sebelum goreng sampai kurang lebih dua minggu dalam kondisi disimpan di kulkas. Ini kata warga yang sering mengonsumsi. Tertarikkah Anda, zMania? Mangga dirawuhi.. :)

[z104|djdd]
Posting Komentar