GOOGLING..!

Sabtu, 12 Mei 2012

SATU TONTONAN SERIBU TUNTUTAN


Menikmati sebuah tontonan yang mengasyikkan kerap kali menggugah motivasi kita untuk berupaya berbuat seperti hanya apa yang sedang kita tonton itu. Apalagi tontonan tersebut sesuai dengan isi hati dan hobi. Banyak hal yang bisa kita petik, sehingga kita pun menyebutnya sebagai tontonan yang inspiratif.

Banyak sekali kita jumpai tontonan yang dipersiapkan dengan kreatif. Di situ akan nampak berbagai macam pengembangan dari apa yang pernah ditampilkan olehnya, si pelaku atau pemberi tontonan tersebut. Kalau kita cukup jeli mengamati karena satu saat nanti bakal mengikuti, tentu akan banyak juga pelajaran yang bisa kita cermati. Itu bagian dari pengalaman menonton, bisa jadi juga akan mengristal sebagai konsep dan ide Anda yang akan datang.

Akan halnya yang terjadi pada sebuah kelompok kecil sepakbola kampung, sebut saja SSB Capung, menonton adalah aktivitas yang kudu dilakoni. Selain karena mudah dan cepat bisa diterapkan, juga murah secara nominal. Anak-anak SSB Capung bukanlah sekelompok anak kota yang bisa setiap kali main ke alun-alun. Anak-anak SSB Capung juga bukanlah sekelompok anak gaul yang acap kali nongkrong di ruang-ruang publik jantung kota. Mereka masih lekat dengan keseharian kultur pedesaan di tengah padang, sawah, kali dan jalan berbatu berdebu.

Sebuah contoh kasus yang menarik seandainya anak-anak SSB Capung itu nantinya bisa mengikuti kompetisi sepakbola antar SSB yang segera bakal digelar ASSBI Pengurus Cabang Purworejo, Juni mendatang. Saat ini, mereka --anak-anak SSB Capung itu-- belum memiliki home base stadion yang layak. Jangankan stadion, lapangan untuk ukuran Kelompok Usia 10 tahun saja belum tuntas pengerjaannya. Kendati demikian, memaksimalkan apapun yang ada adalah sebuah keharusan. Bola sepak yang tadinya berjumlah enam biji pun kini tinggal separo. Kerucut penanda jarak pada saat latihan pun baru ada dua. Masih ada beberapa pemain yang belum mempunyai kostum sendiri, apalagi pelindung supporter, pelindung tulang kering dan seabreg kebutuhan vital lainnya.

Dengan memanfaatkan berbagai macam tontonan sepakbola global yang makin marak, anak-anak SSB Capung pun mencoba belajar, tentang strategi dan teknik. Begitupun dengan sajian kostum yang berwarna-warni. Dengan gegap gempita riuh rendah suasana penonton dan  pendukung sepakbola yang menggelegar. Ada sepercik harap di tengah senyum mereka sore tadi.

Coach Dito, --mantan pemain ISP Purworejo pada jamannya-- tampak dengan serius memberikan banyak bimbingan dan arahan untuk menyiapkan sekaligus dua tim untuk menghadapi kompetisi sepakbola antar SSB versi ASSBI Pengurus Cabang Purworejo. Pun demikian, Minggu sore esok juga akan dilangsungkan laga uji coba melawan SSB Remaked, binaan PS Remaked, peserta Liga Purworejo.

Begitulah, tuntutan-tuntutan dalam arti positif berupaya tetap dikedepankan sejak dini. Pembinaan bukan untuk semata mencari kata menang, mendulang kata uang, atau menang perang. Sedikit demi sedikit, peran manajemen mulai diterapkan untuk membantu mengatasi kendala yang ada.

text:djnn
pics:dito

Poskan Komentar