GOOGLING..!

Minggu, 27 Mei 2012

Inspirasi Kita untuk Bangkit

Gapura
 Inspirasi Kita untuk Bangkit Membangun Karangjati Popongan

Gapura besar berbentuk joglo berdiri di depan dusun Karangjati desa Popongan kecamatan Banyuurip sebagai simbol pintu masuk dusun. Saat ini bangunan itu seakan-akan belum selesai pembangunannya, padahal gapura besar itu sudah lama selesai sejak para pemuda penggagas ide pembangunan gapura itu masih tinggal di dusun ini. Mengapa gapura terlihat tak terawat? Wajahnya lusuh, catnya luntur, seakan penuh penyakit panu. Beberapa tahun lalu bahkan atapnya rusak, diterpa hujan dan panas. Karangjati seakan lupa akan keberadaan gapura besar yang berjasa memperindah dan mencerminkan masyarakat dusun ini. Baru sejak tahun lalu, tepatnya pada bulan Ramadhan, beberapa tokoh masyarakat terketuk hatinya, prihatin. Mereka melihat pintu gerbang dusun tak terawat. Mereka pun peduli untuk membenahi, memperbaiki atap gedung yang rusak. Belum sempat selesai, waktu demi waktu berjalan hingga saat ini (hampir 1 (satu) tahun). Gapura besar tanpa genteng krepus.

Alhamdulillah, atas kesepakatan bersama dalam pertemuan warga Karangjati, gapura tersebut dilanjutkan perbaikannya yaitu menutup genteng krepus, tepatnya pada hari Minggu Legi, 27 Mei 2012. Ini seharusnya bisa kita petik nilainya: perlunya menghargai hasil karya para pendahulu, para pemuda saat itu serta jangan sia-siakan pengorbanan orang yang telah berjuang.

Perlu kita menengok ke belakang, bagaimana perjuangan untuk membangun sebuah gapura itu, tentu para pemuda penggagas ide telah banyak berjuang baik dengan tenaga, biaya dan harta, pikiran, tekad dan mental agar gapura bisa berdiri sebagai cerminan Dusun Karangjati Membangun. Saat itu sekitar tahun 1997, para pemuda yang digawangi oleh Sudirman dan Agus Santoso mempunyai ide untuk membangun sebuah gapura di depan jalan masuk dusun. Dengan bermodalkan niat dan tekad, ide mereka usulkan pada warga saat itu, namun saat itu ternyata banyak yang keberatan, dan tidak setuju dengan beberapa alasan dan pertimbangan. Bahkan Soeparjo, Kepala Desa saat itu, sangat tidak setuju. Alasannya, desa tidak bisa membantu, takut memberatkan warga. Desa saja tidak berani membangun bangunan yang menelan biaya yang besar, apalagi hanya untuk dusun. Alhasil, proposal dari pemuda Karangjati pun ditolak. Ide tetap ada dan selalu bertekad untuk tetap membangun. Mereka mencoba menggali potensi yang ada pada saat itu dengan dukungan beberapa pemuda lain serta beberapa warga mengumpulkan dana bersifat mandiri antara lain: membuat batu bata di pekarangan Soepangat R. (sekarang kepala dusun Karangjati). Batu bata yang dihasilkan sebagian dijual untuk tambahan dana dan sebagian lain untuk material gapura tersebut. Selain itu para pemuda semangat mencari sumber-sumber dana yang bersifat mandiri dengan pemberdayaan pemuda saat itu serta kegiatan usaha yang hanya bermodalkan tenaga seperti 'derep' (buruh memetik padi di sawah), berjaga parkir di Rumah Makan 'Oye', serta usaha yang lain sehingga menghasilkan dana yang digunakan untuk pembangunan. Semua itu adalah perjuangan luar biasa yang patut kita banggakan dan dapat menjadi suri tauladan. Bahwa dengan semangat, niat tulus dan ikhlas cita-cita membangun sebuah gapura akhirnya terwujud. Tentunya bangunan ini akan menjadi suatu prasasti kenangan para pemuda tangguh yang berjuang untuk pembangunan di dusun Karangjati.

Semangat ingin maju yang dimiliki para pemuda saat itu tentunya perlu kita ambil contoh dan kita teruskan, apalagi kita sebagai warga yang setiap hari tinggal dan hidup di dusun Karangjati.

Saat inilah kesempatan kita untuk bangun dari keterpurukan, dari keterdiaman, dari keterbelakangan yang jauh dari pembangunan dan kemajuan. Kemajuan dan pembangunan tidaklah cukup hanya dengan berpangku tangan, tidaklah cukup dengan mengandalkan bantuan, atau hanya menunggu dari pemerintah. Pembangunan yang lazimnya bersifat top-down, harus juga didukung pembangunan dari warganya (bottom-up) atau bisa dikatakan membangun dari lingkungan bawah terus ke lingkungan yang lebih atasnya lagi. Kita semua khususnya warga dusun Karangjati seyogyanya sak iyeg saeka praya bangun dusun kita ini dengan modal kekompakan dan kerukunan serta semangat untuk maju.

Perlu kita fahami bahwa desa/dusun yang maju dan mandiri adalah dambaan dan cita-cita, maju bisa diartikan kondisi yang dinamis semakin baik dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Sedangkan mandiri diartikan dalam membangun mampu menggali seluruh potensi yang ada dan dapat memberdayakan, serta mengikutsertakan seluruh warganya. Apakah harus dengan iuran, pungutan, dan iuran lagi??? Saya pikir untuk membangun dusun serta membangun pribadi masyarakat sistem itu perlu diubah yaitu 'sistem yang mendidik masyarakat berjiwa konsumtif diubah menjadi produktif yang dapat menghasilkan' seperti yang dilakukan para pemuda dalam membangun gapura kita, yaitu dengan rukun, kompak, melakukan usaha yang jelas hasilnya dan besar manfaatnya.

Kita yakin, semua warga memiliki ide yang baik, namun tanpa wujudnya adalah hal yang sia-sia, “Visi tanpa aksi adalah mimpi.”

[aanpopyes|z104]
  
Posting Komentar