GOOGLING..!

Minggu, 08 Januari 2012

Sekolah Bola di Kampung


Aroma bola kini tercium di mana-mana. Lebih banyak dan lebih terarah, ketimbang tahun 80-an. Itu setidaknya di kawasan Jokima. Anak-anak kala itu biasa main bola di pasir tepi kali Bogowonto. Di tegalan kacang seusai panen juga biasa. Di pekarangan tetangga juga nggak asing. Itu dulu, saat satu pun lapangan untuk main bola bisa dibilang tak ada. Yang penting guyub, karena main PS juga nggak mungkin.
Di sebelah timur lokasi SMPN 26 Purworejo, kini sekerumunan anak-anak seusia SD juga main bola. Di jaman berbeda dengan para kakak dahulu. Lihat sajalah sendiri, ada satu tanah lapang, masih jauhlah kalau disebut sebagai stadion. Tapi lumayan dan menggembirakan jikalau bibit-bibit pemain nasional bisa ditemukan di sini. Kelak! Hahahaha..!
Di kawasan ini, sebuah Sekolah Sepak Bola ~ boleh disingkat SSB ~ akan segera berproses. Berproses mengikuti naik turunnya semangat, naik turunnya minat, naik turunnya kelaziman kultur keseharian masyarakat sekeliling.
SSB Capung diinspirasi dari tampaknya sebuah lapangan kampung yang tiang dan mistar gawangnya ambruk berhari-hari tanpa ada yang memperbaikinya. Anak-anak penyuka bola bermain tanpa sepatu dan memanfaatkan lapangan area SMPN 26 yang lebih terawat. Di lapangan kampung itu juga tumbuh rumput-rumput liar tanpa tersiangi. Kumuh, kira-kira begitu.
Aditya Oktafiaris, salah satu yang merasa terpanggil untuk kelak menuntaskan sekerumun anak-anak penyuka bola itu untuk bermain dengan lebih layak. Salah satunya bisa mengenakan sepatu bola dan seragam. Dilihat dari jauh pun akan menggugah hati, menarik simpati. Anak-anak pun senang, untuk berprestasi pun tinggal mau berlatih atau tidak. Satu persatu anak-anak tersebut ditawari, mau berlatih serius atau tidak. Syarat utama harus mau mengenakan sepatu bola. Gratis, dalam arti tidak dipungut jasa pembinaan atau latihan. Pakaian yang akhirnya menjadi seragam diupayakan iuran atau menabung terlebih dahulu, sehingga tidak memberatkan orang tua. Demikian juga tentang sepatu, tidak harus dengan mengenakan sepatu bola, pokoknya sepatu yang enak buat latihan, minimal bisa melindungi kaki dari batu-batuan yang bertebaran di sekujur lapangan.
Kini, beberapa di antara anak-anak itu sudah memiliki sepatu bola. Mereka pun memiliki kaos bola. Ada namanya di dada, SSB Capung. Ada nama mereka di atas nomor punggung. Sangat personal, tetap menyatu dalam tim dan komunitas nantinya. Kelak, ada Garuda di Dadaku.. :)

Hari ini, SSB Capung meluncurkan Facebook Group, mari bergabung..!

Aditya Oktafiaris, yang melihat sekilas 'ironi' persepakbolaan kampung itu, kebetulan juga pernah memperkuat tim ISP Purworejo, saat itu belum bernama Persekabpur. Di kota Purworejo, ia menikmati masa kecilnya bersama SSB IM Purworejo. Mulai kelas dua sekolah dasar, dirinya pernah mengikuti laga-laga Piala Haornas, Piala Suratin, Popda, Porda dan event-event antar sekolah sepakbola. Itu mewakili nama besar kabupaten Purworejo. Begitu ironis ia bilang, ada lapangan tak termanfaatkan di kampung ini. Tak ada yang merasa peduli dengan tindakan-tindakan nyata yang tampak dari lalu lalang lalu lintas tepi lapangan itu. Tak lebih baik dari kondisi lapangan yang ada, katanya terkekeh. :)
SSB Capung ini kini membutuhkan seperangkat sarana dan prasarana latihan. Satu persatu diupayakan secara bertahap. Jumlah bola yang ada, jelas sangat kurang dari mencukupi. Pernah satu saat latihan dihadiri limapuluhan anak-anak. Bolanya cuma dua biji. 
Poskan Komentar