GOOGLING..!

Selasa, 10 April 2012

Pripun Sekecanipun Nyamplung Menika?


Menjemur Nyamplung

Hari ini dan besok, 10-11 April 2011, di Patutrejo, Grabag, Purworejo diselenggarakan aktivitas berlabel Urun Rembug “Pripun Sekecanipun Nyamplung Menika? Sinergi Pengembangan Bahan Bakar Nabati Nyamplung: Layak, Ajeg, Sinambung.”

Aktivitas ini diselenggarakan oleh Program Magister Studi Pembangunan Institut Teknologi Bandung (PMSP-ITB) dan Pemda Kabupaten Purworejo.

Popularitas kata nyamplung naik saat dilakukan uji coba penggunaannya bulan lalu. Kini kita diingatkannya kembali. Bahkan lebih dari itu, lebih dari sekadar mengingat-ingat, tapi juga diajak berfikir, bagaimana besok sebaiknya, si nyamplung yang 'naik kelas' fungsi dan manfaatnya!

Menurut Argo Prasetyo, Kepala Bidang Kehutanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purworejo, tanaman nyamplung sudah ada di Purworejo sejak 1970-an. “Saat ini sudah ada areal sekitar 132 hektar, dengan jumlah tanaman lebih dari 100 ribu buah,” ujarnya.

Untuk menjalankan agenda ini, lanjut Argo, pihaknya memulai dari masyarakat bawah, bekerjasama dengan beberapa pihak. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Relung diajak untuk membantu dalam hal penataan kelembagaan. Sedangkan CV Cahaya Khatulistiwa, sebuah perusahaan swasta dari Yogyakarta, dirangkul sebagai pemasok mesin pengolah biodiesel nyamplung.

“Efisiensi (mesinnya) cukup bagus. Dahulu, sebelum ada mesin yang baru, harga produksinya mencapai 30 ribu rupiah per liter. Sedangkan sekarang sekitar 7.500 rupiah,” terangnya. Ini membuat harga jual biodiesel tersebut menjadi kompetitif, yaitu sekitar 8.500 hingga 9.000 rupiah per liter, setara dengan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.

Bahkan, biodiesel asal Purworejo ini pun telah menjalani pengujian langsung dengan menggunakannya pada mobil standar pabrik. “Kami coba road test, dan hasilnya ternyata cukup memuaskan. Jarak (pengujian) 736 kilometer, mobil tidak ada masalah,” tuturnya.

Biodiesel Nyamplung Purworejo untuk Indonesia 

Keberlanjutan pembangunan di negara-negara berkembang bisa terhambat jika persoalan energi tidak diperhatikan secara serius, dan sumber energi yang baru tidak dikembangkan. Lebih jauh, hambatan ekonomi di negara berkembang ini juga bisa berdampak pada ekonomi global.

Mengapa ini menjadi persoalan? Dalam peradaban modern ini, ekonomi memang bisa tumbuh dengan pesat, namun ia bergantung pada energi fosil — dalam bentuk minyak bumi, gas alam, dan batubara — yang suatu saat pasti pasti akan habis. Dengan demikian, keberlanjutan ekonomi sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk mengelola sumber energinya. Jika tidak, kehidupan ekonomi masyarakat tersebut akan akan sangat bergantung pada bangsa-bangsa lain.

Salah satu kebijakan energi yang dimaksud adalah pengembangan energi terbarukan melalui bahan bakar nabati (BBN). Kebijakan nasional yang didengung-dengungkan lima tahun belakangan dalam pengembangan BBN ini, meski ada kritik atau kekecewaan di sana-sini, adalah upaya yang baik dan perlu diteruskan. Belajar dari hal-hal yang sudah terjadi, kebijakan-kebijakan dan konsep-konsepnya perlu dipikirkan kembali. Kembalikan ke pokok persoalannya, yaitu ingin ekonomi Indonesia tumbuh dan berkelanjutan — bukan hanya nasional, tapi juga daerah.

Teknik-teknik terkait pengembangan BBN sudah banyak tersedia di berbagai lembaga penelitian, juga telah dikembangkan berbagai jenis tanaman yang bisa menghasilkan energi. Tapi upaya ini perlu diintegrasikan dengan sistem pertanian lokal, lalu berkait dengan ekonomi lokal, dan kemudian berkembang kepada aktifitas ekonomi regional, provinsi dan nasional.

Hal ini mendorong Program Magister Studi Pembangunan Institut Teknologi Bandung (PMSP-ITB) untuk mengembangkan model pengembangan BBN yang inovatif dan mengakomodasi keunggulan daerah. Sebagai salah satu studi kasus, penelitian berfokus pada inisiasi lokal yang telah dilakukan oleh kabupaten Purworejo. Disini, buah nyamplung dikumpulkan dan kemudian diolah menjadi bahan pembuat biodiesel yang mampu menggantikan minyak solar.

Sebagai salah satu upaya untuk mendukung keberlanjutan aktifitas ini, pada 10-11 April 2012, PMSP ITB bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Purworejo menyelenggarakan urun rembug dengan tema “Pripun Sekecanipun Nyamplung Menika? Sinergi Pengembangan Bahan Bakar Nabati Nyamplung: Layak, Ajeg, Sinambung.” Acara ini diselenggarakan di aula desa Patutrejo, Grabag, di samping lokasi pabrik Desa Mandiri Energi (DME).

Kebijakan pengembangan energi yang terintegrasi dengan ekonomi secara layak, ajeg dan berkelanjutan diperlukan dalam pengembangan biodiesel nyamplung ini. ”Target besarnya, biodiesel nyamplung Purworejo ini untuk Indonesia,” tandas Argo Prasetyo. Alternatif lainnya, tanaman ini juga bisa dikembangkan menjadi bahan pembuatan bahan bakar biokerosen atau pewarna batik.

[ ■ | mm]
Posting Komentar