GOOGLING..!

Jumat, 14 September 2012

#PERISTIWA #PERTANIAN #RANGKUMAN #SEPTEMBER


Pada hari Senin, 6 Agustus 2012, Bupati Purworejo Drs. H. Mahzun Zain, M.Ag melakukan panen raya di Desa Tangkisan Kecamatan Bayan. Jenis padi pada panen raya ini adalah Ciherang yang merupakan bantuan sosial (bansos) kegiatan Pengembangan Metode Sistem Intensifikasi Padi/System of Rice Intensification (SRI), yaitu teknik budidaya padi yang teruji mampu meningkatkan produktivitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara sebesar 50%.
Sumber dana bansos pada Tahun Anggaran 2012 ini dari Dirjen Prasarana dan Sarana Kementerian Pertanian. Menurut penjelasan Supardi selaku Ketua Kelompok Tani Maju Bersama, dari lahan yang ditanami padi dengan metode SRI seluas 20 hektar ini mendapat dana bansos sebesar Rp 43 juta, diperoleh rata-rata panen (produktivitas) antara 7,3 sampai 8,7 ton gabah per hektar. 
Sedikit Sejarah Metode SRI 
Metode SRI pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983 - 1984 oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Perancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama para petani di sana. Oleh penemunya, metododologi ini selanjutnya dalam bahasa Perancis disebut Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Dalam bahasa Inggris populer dengan nama System of Rice Intensification disingkat SRI.
Tahun 1990 dibentuk Association Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), bekerja sama dengan Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for International Development. SRI telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka dan Bangladesh dengan hasil yang positif.
SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD). Pada tahun 1987, Uphoff mengenalkan metode SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan di luar Madagaskar. Hasil metode SRI di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, bahkan ada juga yang memperoleh 10-15 ton/ha.
Pada cara konvensional benih yang digunakan sebanyak 30 kg/ha, maka dengan pola SRI cukup 7 kg/ha. Apabila cara dengan konvensional sekali tanam bisa 4-6 anakan hasil semaian, tetapi dengan metiode SRI padi hasil semaian ditanam di sawah dengan biji tunggal (satu biji benih) saat usia benih kurang lebih baru 14 hari, sehingga relatif belum terjadi persaingan perolehan unsur hara di persemaian dengan jarak tanam padi 30 cm x 30 cm.
Kondisi air di sawah cukup macak-macak (tidak tergenang seperti cara konvensional), penyiangan dilakukan empat kali, pemberian pupuk alami sampai enam kali, pengendalian hama terpadu dan masa panen saat usia 100 hari atau lebih cepat 15 hari dengan pola biasa.
Prinsip-prinsip budidaya padi organik metode SRI 
- Tanaman bibit muda berusia kurang lebih 14 hari setelah semai (hss) ketika bibit masih berdaun 2-4 helai
- Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang
- Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
- Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (irigasi berselang/terputus)
- Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
- Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik (kompos atau pupuk hijau)
Keunggulan metode SRI
- Tanaman hemat air. Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air maksimal 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (irigasi terputus)
- Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit maupun kekurangan tenaga kerja pada saat tanam
- Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 - 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
- Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
- Ramah lingkungan, tidak menggunaan bahan kimia dan digantikan dengan mempergunakan pupuk organik (kompos, kandang dan mikro-organisme lokal), begitu juga penggunaan pestisida. [dipertanhut|z104]


Poskan Komentar